“Kalau jumlah entitas atau pengusahanya semakin banyak, maka tingkat pertumbuhan ekonomi sebuah negara konsekuensinya akan semakin meningkat. Salah satu solusi untuk menekan angka pengangguran adalah mendorong kampus sebagai laboratorium atau inkubator untuk menghasilkan pengusaha-pengusaha hebat di Tanah Air,” ujar Menteri Maman.
Sebagai bukti nyata, Menteri Maman mengangkat kisah sukses Chairul Tanjung yang memulai ekspansi bisnisnya dari skala mikro di lingkungan kampus dengan menjual buku dan membuka jasa fotokopi.
Baca Juga: Kemendag Gandeng Telkom University Cetak Wirausaha Muda Berorientasi Ekspor lewat Campuspreneur
Narasi ini membuktikan bahwa intuisi bisnis yang tajam berakar dari kejelian membaca kebutuhan pasar di sekitar kita.
Terlebih lagi, data UNDP menunjukkan sekitar 81 persen anak muda Indonesia memiliki ambisi kuat menjadi wirausaha.
Inkubator Kampus dan Hilirisasi Riset Bernilai Cuan
Pemerintah terus memperkuat fungsi inkubator bisnis perguruan tinggi agar mahasiswa mendapatkan mentoring profesional, validasi model bisnis, hingga kemudahan akses permodalan.
Baca Juga: Gandeng UNS, Kemendag Orbitkan 30 Wirausaha Mahasiswa Lewat Campuspreneur Expo
Selain itu, sinergi lintas instansi memangkas birokrasi legalitas dan sertifikasi usaha agar para founder muda dapat mengeksekusi ide secara lincah (agile).
Menteri Maman juga mendorong komersialisasi riset akademik agar menghasilkan revenue stream yang konkret bagi sivitas akademika.
“Sebagus apa pun hasil riset yang dimiliki kampus, jangan hanya menjadi pajangan di laboratorium. Bagaimana hasil riset tersebut mampu memberikan efek atau nilai komersial, memberikan nilai tambah dan pemberdayaan bagi dosen maupun mahasiswa yang terlibat,” ujar Menteri Maman.




