Baca Juga: Pertamina NRE dan Medco: Satu Meja Dua Raksasa di Jalur Bioenergi
“Perkeretaapian kan kategorinya low speed engine, kalau otomotif ini speed engine-nya paling tinggi. Nah itu bisa dipastikan pasti akan jalan untuk kereta. Nah nanti kita lihat di perkeretaapian ini filternya seperti apa,” tutur Eniya.
Dukungan dan Dampak Efisiensi
PT Kereta Api Indonesia (Persero) memberikan dukungan penuh terhadap agenda transisi energi ini. Direktur Pengelola Sarana Prasarana PT KAI, Heru Kuswanto, menyatakan kesiapannya mendukung pemanfaatan energi hijau dengan tetap memprioritaskan faktor keselamatan dan keandalan sarana.
“Kami berharap kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang optimal, tidak hanya untuk pengembangan teknologi perkeretaapian, tetapi juga sektor ini mendukung transisi energi,” kata Heru.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan bahwa kebijakan B50 ini memiliki dampak signifikan bagi postur energi nasional.
Baca Juga: Pertamina NRE Gandeng USGBC, Perkuat Riset dan Teknologi Bioetanol di Indonesia
Pertamina disebut telah siap melakukan proses pencampuran (blending) yang berpotensi memangkas penggunaan bahan bakar fosil hingga 4 juta kiloliter per tahun.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat neraca perdagangan sekaligus mewujudkan transportasi massal yang lebih ramah lingkungan. (*)






