Langkah ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan frekuensi penerbangan haji tanpa mengganggu jadwal penerbangan reguler.
Strategi ini juga didorong oleh penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir, memastikan setiap depo pengisian pesawat di bandara memiliki cadangan yang melampaui level psikologis aman.
Inovasi Bahan Bakar Hijau
Di sisi lain, Pertamina memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat agenda transisi energi melalui pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur.
Produk ini dikembangkan dengan memanfaatkan minyak jelantah (Used Cooking Oil) sebagai bahan baku domestik.
Baca Juga: Pertamina Jamin Kualitas Avtur di AFT Halim Perdanakusuma Jelang Mudik Idulfitri 2026
Baron menyebut, langkah ini tidak hanya bertujuan menekan emisi karbon di sektor penerbangan global, tetapi juga untuk mereduksi ketergantungan pada energi fosil impor.
“Pertamina berkomitmen mendukung transisi energi melalui pengembangan biofuel berbasis bahan baku dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor,” tutup Baron.
Melalui kesiapan infrastruktur dan inovasi bahan bakar berkelanjutan ini, Pertamina berharap proses mobilisasi jamaah ke Arab Saudi dapat berjalan tanpa kendala teknis dari sisi ketersediaan energi. (*)






