Keunggulan harga menjadi semakin penting ketika perusahaan konstruksi menghadapi tekanan biaya dan membutuhkan alat berat dengan tingkat pengembalian investasi yang menarik.
Baca Juga:Â Mobil Listrik Mungil Honda Super-One Dibanderol Rp467 Juta di Australia
Namun, harga murah saja tidak cukup. Pengguna alat berat menghitung total biaya kepemilikan atau total cost of ownership yang mencakup konsumsi bahan bakar, biaya perawatan, harga suku cadang, waktu berhenti operasi, hingga nilai jual kembali.
Karena itu, produsen China perlu membuktikan bahwa harga pembelian yang kompetitif juga menghasilkan biaya operasional yang efisien.
Konstruksi dan Tambang Jadi Mesin Pertumbuhan
Prospek pasar excavator China sangat berkaitan dengan perkembangan sektor pengguna alat berat. Selain konstruksi, pertambangan menjadi salah satu pasar penting karena membutuhkan excavator dalam berbagai kelas, terutama untuk pekerjaan penggalian, pemuatan, pembukaan lahan, dan penanganan material.
Pengembangan infrastruktur dan kawasan industri juga membuka peluang baru. BPS mencatat investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen pada triwulan I 2026. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong investasi pemerintah dan swasta.
Riset pasar konstruksi juga memperkirakan pasar peralatan konstruksi Indonesia meningkat dari sekitar 21.694 unit pada 2025 menjadi 31.920 unit pada 2031, dengan pertumbuhan tahunan gabungan sekitar 6,65 persen. Excavator termasuk kategori penting dalam segmen earthmoving equipment.




