Proyeksi tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan masih terbuka. Apalagi, kebutuhan alat berat tidak hanya datang dari proyek-proyek besar. Kontraktor daerah, perusahaan perkebunan, pertambangan skala menengah, hingga bisnis penyewaan alat berat juga menjadi calon pengguna.
Persaingan Tidak Lagi Sekadar Soal Harga
Persaingan merek China di Indonesia diperkirakan semakin ketat. SANY telah memiliki basis pengguna yang besar di Indonesia, sementara XCMG, LiuGong, Zoomlion, SDLG, Shantui, Sunward, Lovol, Lonking dan sejumlah merek lainnya terus memperluas pasar.
SANY, misalnya, diperkirakan memiliki pangsa sekitar 20-22 persen di segmen excavator Indonesia. Riset yang sama menyebut perusahaan tersebut telah mengirim lebih dari 43.000 unit mesin ke Indonesia sejak masuk pada 2008, termasuk sekitar 26.000 excavator yang masih aktif beroperasi hingga September 2025.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persaingan merek China sudah memasuki tahap yang lebih serius. Pemain baru tidak cukup hanya menawarkan harga agresif. Mereka harus membangun kepercayaan melalui jaringan dealer, teknisi, gudang suku cadang, layanan cepat, dan dukungan pembiayaan.
Baca Juga: Garap Mobil Listrik Nasional, Kemenperin Pacu Ekosistem Kendaraan Listrik RI
LiuGong menjadi salah satu contoh bagaimana produsen China mulai memperkuat aspek teknologi. Pada April 2026, LiuGong meluncurkan excavator Seri F di Indonesia dengan penekanan pada teknologi cerdas, efisiensi bahan bakar, kenyamanan operator, dan daya tahan.
Langkah tersebut memperlihatkan perubahan strategi industri. Merek China mulai bergerak dari pendekatan “lebih murah” menjadi “lebih bernilai”.




