URBANCITY.CO.ID – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (4/8). Mata uang Garuda melemah 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp18.027 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.997 per dolar AS. Pergerakan ini menjadi sinyal penting bagi investor, pelaku usaha, dan masyarakat urban yang memiliki aktivitas keuangan berbasis impor, investasi, maupun perjalanan ke luar negeri.
Tekanan terhadap rupiah mencerminkan meningkatnya tantangan ekonomi domestik dan global. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk lebih selektif dalam mengelola aset serta mengantisipasi potensi volatilitas nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan.
Defisit Perdagangan Tekan Rupiah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi defisit neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026.
“Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 defisit 450 juta dolar AS,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Baca Juga: BI Rate Naik ke 5,75 Persen, Bank Indonesia Perkuat Stabilitas Rupiah
Defisit tersebut terutama berasal dari sektor migas yang mencatat defisit sebesar 3,49 miliar dolar AS. Komoditas penyumbang terbesar berasal dari hasil minyak dan minyak mentah. Nilai ekspor migas yang mencapai 5,46 miliar dolar AS masih jauh lebih rendah dibandingkan impor sebesar 25,91 miliar dolar AS.
Bagi investor, kondisi ini menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi masih tinggi. Selama kebutuhan impor migas belum berkurang, tekanan terhadap rupiah berpotensi bertahan, terutama ketika harga minyak dunia meningkat.




