Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 juga turun menjadi 145 miliar dolar AS dari posisi 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025. Penurunan tersebut terjadi karena kebutuhan menjaga stabilitas rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Pasar Menanti Data Pertumbuhan Ekonomi
Pelaku pasar kini menunggu rilis Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II 2026 yang akan menjadi indikator penting arah ekonomi nasional.
“Sikap hati-hati juga masih mewarnai pasar menjelang rilis data PDB (Produk Domestik Bruto) kuartal kedua pada hari Rabu (5/8), mengingat pasar mengantisipasi pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan lonjakan 5,6 persen pada kuartal sebelumnya,” ungkap dia.
Baca Juga: Bendung Spekulan Dolar, Purbaya dan BI Kompak Ramamal Rupiah Perkasa di Semester II
Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 berada di bawah 5,6 persen, namun tidak jauh dari 5,4 persen.
Perlambatan tersebut dipicu oleh tekanan eksternal, mulai dari kenaikan harga minyak mentah, eskalasi geopolitik, hingga arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik. Situasi ini membuat investor cenderung memilih instrumen investasi yang lebih defensif sambil menunggu arah kebijakan ekonomi berikutnya.
Sentimen Global Masih Mendominasi Pasar
Selain faktor domestik, penguatan dolar AS juga dipengaruhi membaiknya data ekonomi Amerika Serikat. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur AS pada Juli meningkat dari 53,3 menjadi 55,6, melampaui ekspektasi pasar sebesar 54.




