Peluang Ekspor dan Peran Pemerintah
Jika tidak dikelola dengan tepat, Eddy memperingatkan bahwa pelemahan ini akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Namun, di sisi lain, depresiasi rupiah sebenarnya menyimpan peluang bagi sektor berorientasi ekspor karena harga produk lokal menjadi lebih kompetitif di pasar global.
“Karena rupiah sedang melemah, ini adalah kesempatan menggenjot ekspor karena harga produk Indonesia akan lebih kompetitif (murah) di pasar internasional,” tutur Eddy.
Ia mendorong pemerintah untuk segera menyuntikkan stimulus bagi dunia usaha agar tetap resilien. “Insentif pajak dan nonpajak (kemudahan berusaha, kepastian hukum, training and development) dari pemerintah untuk dunia usaha,” lanjutnya. Selain kebijakan fiskal, peran Bank Indonesia dalam mengawal stabilitas moneter juga dianggap sangat krusial.
Menepis Isu Rupiah Rp 20.000
Menanggapi spekulasi liar di media sosial mengenai kemungkinan rupiah terjun bebas hingga level Rp 20.000 per dolar AS, Eddy cenderung optimistis hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Menurutnya, dinamika nilai tukar bersifat fluktuatif dan mengikuti mekanisme pasar.
“Depresiasi dan apresiasi rupiah itu sifatnya selalu sementara karena nilai tukar itu terbentuk oleh mekanisme pasar. Sementara itu, intervensi bank sentral terbatas sekali keefektifannya,” ungkapnya.
Terkait skenario terburuk yang beredar di publik, ia menambahkan, “Saya kira itu (pelemahan hingga Rp 20.000 terhadap dollar AS) kemungkinan kecil terjadi. Negara-negara mitra Indonesia juga tidak ingin itu terjadi.”






