URBANCITY.CO.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren koreksi tajam. Mengutip data Google Finance pada Rabu, 29 April 2026, pukul 16.25 WIB, mata uang Garuda merosot ke level Rp 17.363 per dolar AS.
Posisi ini menunjukkan pelemahan signifikan dibandingkan penutupan hari sebelumnya, Selasa, 28 April 2026, yang berada di angka Rp 17.261 per dolar AS. Lantas, sektor apa saja yang paling rentan tergilas oleh depresiasi ini?
Sektor Ketergantungan Impor dalam Bidikan
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menilai tekanan terberat akan menghantam industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap komponen impor. Sektor-sektor ini terpaksa merogoh kocek lebih dalam karena transaksi pengadaan barang dilakukan dengan valuta asing.
“Semua sektor yang membutuhkan komponen impor akan mengalami kesulitan karena depresiasi rupiah,” kata Eddy saat dihubungi, Rabu, 29 April 2026.
Baca Juga : Prabowo Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Rp116 T: Tekan Impor BBM dan LPG
Eddy merinci sejumlah sektor krusial yang mulai megap-megap, di antaranya:
-
Minyak dan Gas: Masih bergantung pada pasokan dan komponen luar negeri.
-
Teknologi Informasi: Meliputi pengadaan software dan perangkat keras.
-
Pangan: Terutama komoditas bahan baku seperti kedelai.
-
Manufaktur: Mesin dan alat berat.
“Karena pembayarannya memerlukan mata uang asing seperti dolar. Saat rupiah terdepresiasi seperti sekarang, barang-barang itu akan menjadi semakin mahal untuk dibayar,” jelasnya.




