URBANCITY.CO.ID – Kenaikan harga pangan, transportasi, dan emas perhiasan kembali membentuk pola pengeluaran masyarakat pada Juli 2026. Bagi keluarga urban, kondisi ini bukan hanya meningkatkan biaya hidup, tetapi juga mendorong perubahan strategi belanja, pengelolaan keuangan, hingga keputusan berinvestasi di tengah inflasi yang masih terkendali.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang utama inflasi tahunan pada Juli 2026.
“Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi didorong oleh tiga kelompok,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, SeninBPS.
Baca Juga : Harga Pertamax Naik, Menkeu Pastikan Inflasi Tetap Terkendali
Harga Pangan Masih Menjadi Penekan Pengeluaran Rumah Tangga
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi terbesar, yakni 0,87 persen. Harga kelompok ini meningkat 2,97 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan pokok masih menjadi faktor utama yang memengaruhi daya beli masyarakat.
Kenaikan harga terutama dipicu oleh ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin (SKM), daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, serta rokok kretek tangan (SKT). Kondisi ini membuat rumah tangga perlu semakin cermat mengatur anggaran konsumsi harian agar pengeluaran tetap efisien.
Kelompok transportasi juga mencatat inflasi sebesar 5,12 persen (yoy) dengan andil 0,62 persen. Kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, mobil, pelumas atau oli mesin, serta sepeda motor menjadi faktor utama yang meningkatkan biaya mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.




