URBANCITY.CO.ID – Ketidakpastian hebat masih membayangi jalur energi paling vital di dunia, Selat Hormuz. Meski jalur ini nantinya dibuka kembali sepenuhnya, para ahli memperingatkan bahwa pemulihan aliran minyak dan gas global tidak akan terjadi dalam sekejap.
Analis Reuters, Ron Bousso, menilai meredanya konflik bukan jaminan stabilitas instan. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan hingga hitungan tahun untuk mengembalikan arus energi ke level sebelum perang pecah.
Kondisi ini menyusul ketegangan antara Teheran dan Washington. Sebelumnya, Iran memperketat kontrol di selat tersebut sebagai balasan atas blokade Amerika Serikat terhadap kapal tanker mereka. Meski sempat mengumumkan pembukaan sementara di tengah gencatan senjata 10 hari, Teheran tetap memperingatkan penutupan jalur jika eskalasi berlanjut.
Logistik dan Keamanan Jadi Penghambat
Sejak kampanye pengeboman gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz merosot tajam. Padahal, jalur ini merupakan perlintasan bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Baca Juga : Strategi ala Barcelona Bahlil Lahadalia Jaga Pasokan Energi: Bertahan dan Menyerang
Saat ini, sekitar 13 juta barel minyak dan 300 juta meter kubik gas alam cair (LNG) per hari terjebak di kawasan Teluk. “Kecepatan pemulihan tidak hanya bergantung pada diplomasi antara Washington dan Teheran, tetapi juga faktor lain seperti logistik, ketersediaan asuransi kapal tanker, tarif pengiriman, hingga keberanian operator kapal,” tulis Bousso dalam artikelnya, Senin, 20 April 2026.
Sekitar 260 kapal tanker yang terisolasi di kawasan Teluk diperkirakan akan menjadi gelombang pertama yang keluar membawa 170 juta barel minyak dan 1,2 juta ton LNG, mayoritas menuju pasar Asia. Namun, normalisasi armada tanker global diperkirakan memakan waktu minimal 8 hingga 12 minggu.




