“Kami juga melakukan penajaman fokus bisnis, percepatan transformasi digital, serta penguatan perusahaan anak. Pada akhirnya, kami sangat berbangga karena program transformasi yang berjalan selama lebih dari tiga tahun terakhir telah memberikan hasil yang nyata,” ujar Okki.
Beberapa capaian yang telah dilakukan BNI di antaranya, meningkatnya rasio kecukupan permodalan (Capital Adequacy Ratio) dari 16,8% di Desember 2020 menjadi 21,9% di September 2023.
Baca Juga: BNI Raih Penghargaan The Best CEO of The Most Sustainable Bank
Tingginya rasio kecukupan permodalan ini memberikan gambaran kuatnya fundamental BNI dalam mengantisipasi potensi gejolak ekonomi di masa depan.
Lebih lanjut, pergeseran portofolio ke nasabah top tier serta perbaikan kualitas kredit dan manajemen risiko, berdampak pada rasio NPL yang per September 2023 sudah berada di level 2,3%, dibandingkan dengan 4,3% di Desember 2020.
Pencadangan kerugian untuk NPL bahkan telah mencapai 324,5% dibandingkan dengan 182,4% di Desember 2020.
Pencapaian lainnya seperti struktur dana pihak ketiga yang sehat berbasis transaksi, Cost of Fund yang secara struktural lebih rendah dari pandemi, layanan digital yang kompetitif, dan progress lainnya yang memastikan BNI terus membukukan peningkatan ROE yang berkelanjutan ke depan.
“Kami pun melihat market mengapresiasi progress ini, yang tercermin pada kinerja saham BNI yang cukup baik. Oleh karena itu, harapannya valuasi saham BNI ke depan akan terus meningkat,” pungkas Okki.






