Selain mengandalkan suntikan modal investasi lewat ACCES, kementerian juga menggandeng pemerintah daerah untuk memperkuat ekosistem hilir lewat strategi pengembangan klaster usaha, khususnya pada segmen mikro agar memiliki posisi tawar ekonomi yang lebih solid.
“Untuk itulah Kementerian UMKM menghadirkan sejumlah program terobosan, salah satunya melalui pengembangan klaster UMKM. Banyak pengusaha mikro yang memiliki potensi besar. Ketika dihimpun dalam sebuah ekosistem yang saling menguatkan, mereka akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan naik kelas,” tambah Wamen Helvi.
Baca Juga: Wamendag Roro: Sektor Waralaba Jadi Pilihan Strategis Dorong UMKM Naik Kelas
Gandeng OJK dan 29 Bank, Target Penyaluran Naik Kelas
Agar ekosistem pendanaan ini berjalan efisien dan akuntabel, kementerian merangkul Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta mengunci komitmen dengan 29 lembaga keuangan bank maupun nonbank. Para bankir ini akan dipertemukan langsung dengan para pelaku usaha yang dinilai sudah layak investasi (investment ready).
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, memaparkan bahwa program ini mencatatkan rapor hijau pada tahun sebelumnya dengan realisasi penyaluran modal yang signifikan di berbagai wilayah.
“Pelaksanaan program ini juga didukung kolaborasi multipihak, mulai dari kementerian/lembaga terkait, akademisi, asosiasi UMKM, hingga dinas yang membidangi urusan UMKM di daerah,” jelas Bagus Rachman.
Bagus merinci, pada tahun 2025 program ACCES sukses mengucurkan pembiayaan sebesar Rp53,3 miliar yang diserap oleh 56 pengusaha menengah. Berkaca dari keberhasilan tersebut, Kementerian UMKM memasang target agresif pada tahun 2026 ini dengan mematok total penyaluran modal menembus angka Rp70 miliar. (*)




