Manifestasi Fisik dari Rasa Sakit Emosional
Budaya pendakian saat ini memang lekat dengan pencarian kesembuhan personal. Banyak pendaki memulai perjalanan tepat setelah menghadapi titik balik krusial, seperti perceraian, kematian keluarga, kejenuhan ekstrem (burnout), hingga pemulihan dari kecanduan. Salah satu contoh populer tertuang dalam memoar Cheryl Strayed berjudul Wild, yang berjalan kaki menyusuri Pacific Crest Trail untuk memproses duka.
Secara psikologis, jalur pendakian menjadi tempat di mana penderitaan mental diterjemahkan ke dalam “bahasa tubuh”. Rasa sakit fisik selama perjalanan—seperti otot pegal dan kelelahan ekstrem—menjadi saluran nyata bagi penderitaan emosional yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Peneliti ziarah, Keith Egan, mengamati bahwa kerja keras, kelelahan, rasa sakit, dan gerakan fisik dalam berjalan kaki dapat menjadi ekspresi yang bermakna dari perjuangan pribadi seseorang. Jalur pendakian mampu mengubah luka emosional yang tidak terlihat menjadi sesuatu yang berwujud, sehingga penderitaan tersebut berubah menjadi transformatif.
Apa Kata Riset Kedokteran dan Psikologi?
Secara ilmiah, aktivitas alam liar terbukti mampu mendukung pemulihan trauma dengan meningkatkan efikasi diri (self-efficacy), menciptakan peluang memaknai hidup, dan memberikan ruang bagi proses emosional.
Riset menunjukkan penurunan gejala trauma yang signifikan pada banyak partisipan. Sebagai contoh, Warrior Expeditions program terapi luar ruangan nirlaba khusus veteran menemukan adanya penurunan gejala PTSD yang signifikan secara klinis pada veteran perang setelah mengikuti pengalaman alam liar jangka panjang.
Jocelyn Smith, seorang pendaki jarak jauh yang sedang dalam masa pemulihan dari trauma kompleks, membagikan pandangannya mengenai manfaat mendaki gunung untuk trauma:
“Ada banyak pendaki jarak jauh yang memiliki pengalaman trauma masa kecil. Bagi sebagian dari kami, jalur pendakian lebih dari sekadar olahraga ketahanan, ini menjadi cara untuk mengklaim kembali penderitaan itu sendiri. Tantangan, kelelahan, dan kegigihan di jalur ini menggemakan kesulitan masa lalu, tetapi kali ini perjuangan tersebut dipilih secara sukarela. Kali ini, tujuan dan penghargaan telah menunggu di sisi lain. Dalam banyak hal, pendakian jarak jauh terasa seperti menulis ulang kisah penderitaan, mengubah rasa sakit dari sesuatu yang pernah terjadi pada Anda menjadi sesuatu yang Anda lalui dengan kekuatan, kendali diri, dan niat. Menulis ulang kisah tentang bagaimana kita mengalami penderitaan adalah hal yang sangat memberdayakan,” ujar Jocelyn Smith.




