Sinkronisasi dokumen digital antar-instansi ini terbukti efektif mendeteksi izin usaha ganda yang selama ini menjadi akar dari letupan sengketa lahan berdarah di daerah.
Manajemen berkomitmen memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk membersihkan tumpang tindih ruang demi menciptakan iklim investasi yang aman dan berkeadilan.
Beberapa permasalahan yang terjadi saat ini merupakan akibat belum adanya kesatuan database yang kita miliki, baik di kawasan hutan dan kawasan APL.
“Karena itu, kami terus mendorong pemanfaatan teknologi agar seluruh lembaga menggunakan satu basis data yang sama sehingga tumpang tindih dan konflik dapat ditekan semaksimal mungkin,” ucap Ossy mengakhiri orasi ilmiahnya secara lugas. (*)
