URBANCITY.CO.ID – Cuaca terik musim kemarau kerap menguras energi para profesional urban yang dituntut selalu berkinerja tinggi.
Paparan suhu panas memicu penguapan cairan tubuh secara masif tanpa kita sadari. Sering kali kalangan pekerja baru meraih botol minum saat tenggorokan terasa kering kerontang.
Pola reaktif ini justru mengancam ketajaman analisis, stamina harian, dan stabilitas aset terpenting Anda: kesehatan prima.
Dokter spesialis gizi klinik, Raissa E Djuanda pun mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala dehidrasi.
Baca Juga: Kenapa Nyamuk Banyak saat Musim Kemarau? Pakar BRIN Ungkap Penyebab Utamanya
“Kenapa dehidrasi tidak boleh diabaikan? karena cairan berperan penting dalam kesehatan, untuk menjaga suhu tubuh, sirkulasi darah, fungsi ginjal, hingga keseimbangan elektrolit,” kata Raissa.
Dampak Dehidrasi pada Performa Kerja dan Kesehatan
Kurang minum bukan sekadar memicu rasa haus sesaat, melainkan menurunkan daya saing profesional Anda di meja kerja. Saat pasokan air menyusut, volume darah mengental dan memperlambat aliran oksigen menuju otak.
Akibatnya, rentang fokus memendek, keputusan bisnis melambat, dan potensi risiko medis jangka panjang mengintai organ vital Anda.
Baca Juga: Investasi Kesehatan Mental Kaum Urban: Strategi Jitu Hadapi Transisi Hidup
Lebih lanjut, Raissa mengatakan kurang cairan bisa menyebabkan tubuh cepat lelah, konsentrasi menurun, sakit kepala, bahkan hingga tekanan darah turun, gangguan ginjal, dan penurunan kesadaran.
Tubuh mengirimkan berbagai sinyal alarm sebelum fungsi fisik merosot drastis di tengah padatnya jam kerja.
Gejala yang perlu diwaspadai bisa menjadi tanda seseorang kekurangan cairan, kata Raissa, meliputi rasa haus, bibir kering, mulut kering, sakit kepala, lemas, sulit konsentrasi, warna urin pekat, frekuensi buang air kecil menurun.
“Gejala yang lebih berat lagi: pusing saat berdiri, jantung berdebar cepat, lemas, kebingungan, penurunan kesadaran,” ujar dokter yang menamatkan spesialis gizi klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.
Baca Juga: Kemarau Sangalaki Ancam Konservasi Penyu dan Daya Tarik Ekowisata Berau
Manajemen Hidrasi Berkala Kunci Stamina Optimal
Profesional modern wajib memandang hidrasi sebagai investasi preventif penopang karier berkelanjutan. Mengisi ulang cairan tubuh membutuhkan disiplin terencana, sama halnya seperti Anda mengelola portofolio keuangan harian.
Raissa menyampaikan langkah yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah dehidrasi terutama saat musim kemarau, salah satunya mengonsumsi air putih secara berkala.
“Jangan tunggu haus baru minum. Biasakan minum berkala. Minum lebih sering terutama jika banyak berkeringat,” kata dia.
Baca Juga: Deteksi TBC Jombang: Lindungi Aset Produktif dan Kesehatan Keluarga
Asupan Bernutrisi Tinggi Air untuk Gaya Hidup Aktif
Gaya hidup sehat masyarakat kota juga memerlukan diversifikasi menu harian yang kaya kandungan mineral alami.
Mengonsumsi buah-buahan segar saat jeda makan siang memberikan suntikan mikronutrien sekaligus memulihkan kesegaran tubuh secara instan.
Untuk membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi di musim kemarau, Raissa merekomendasikan makanan dengan kandungan air yang tinggi seperti buah dan sayuran, di antaranya semangka, melon, jeruk, pir, stroberi, ketimun, tomat, sayuran berkuah.
Baca Juga: Ini Lima Tips Mencegah Ban Mobil Overheating Saat Cuaca Panas Musim Kemarau
“Minuman elektrolit jika berkeringat sangat banyak atau olahraga intens,” imbuh dia.
Ia menyarankan penggunaan pelindung paparan matahari terutama saat harus beraktivitas di luar rumah. Selain itu, warna urin juga dapat digunakan sebagai salah satu indikator kecukupan cairan tubuh.
“Kalau warna (urine) makin pekat, bisa jadi itu tanda tubuh perlu lebih banyak cairan,” ujar dokter yang berpraktik di RS MMC itu.




