URBANCITY.CO.ID – Apendi, seorang nelayan senior berusia 72 tahun di Desa Sedari, telah mendedikasikan hidupnya selama puluhan tahun untuk menaklukkan lautan demi menghidupi keluarganya.
Dedikasi ini mencerminkan ketangguhan masyarakat pesisir yang terus beradaptasi dengan ketidakpastian alam dan fluktuasi ekonomi.
Bagi masyarakat urban, kisah Apendi menyoroti pentingnya apresiasi terhadap sektor perikanan sebagai penopang utama ketahanan pangan dan ekonomi daerah.
Pendapatan nelayan bersifat musiman, yang menuntut manajemen keuangan yang sangat presisi setiap harinya.
Apendi dan rekan sesama nelayan menghadapi tantangan besar saat musim paceklik tiba, terutama karena ketergantungan pada modal operasional yang cukup tinggi.
Baca Juga: Tekan Kemiskinan Pesisir, Menteri Koperasi Resmikan SPBU Nelayan di Aceh Selatan
Kehidupan nelayan di Desa Sedari menjadi potret nyata perjuangan kelas pekerja yang mengandalkan kemandirian di tengah keterbatasan fasilitas pendukung.
“Kalau lagi ada, ya lebih. Kalau lagi kosong, ya kosong. Musiman lah kalau nelayan,” ujar Apendi.
Tantangan Inefisiensi Biaya Operasional
Biaya solar sebesar 150 ribu rupiah per perjalanan melaut menjadi beban finansial signifikan bagi nelayan mandiri seperti Apendi.
Ketidakhadiran kelompok nelayan penyedia BBM kolektif memaksa mereka membeli bahan bakar dengan harga eceran di toko sekitar dermaga.
Inefisiensi dalam rantai distribusi energi ini secara langsung memangkas margin keuntungan nelayan dan menghambat potensi peningkatan taraf hidup mereka.




