URBANCITY.CO.ID – Perang antara Iran dan Amerika Serikat bukan sekadar konflik geopolitik. Bagi masyarakat urban, dampaknya bisa langsung terasa melalui kenaikan harga bahan bakar, biaya transportasi, harga kebutuhan pokok, hingga tekanan terhadap investasi. Di tengah ketidakpastian global, memahami arah pergerakan ekonomi menjadi langkah penting untuk menjaga daya beli sekaligus menentukan strategi investasi yang lebih bijak.
Konflik di Timur Tengah menjadi perhatian dunia karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar. Gangguan terhadap distribusi energi, terutama di Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global, berpotensi memicu lonjakan harga minyak. Kenaikan harga energi kemudian meningkatkan biaya logistik dan produksi sehingga mendorong inflasi di berbagai negara.
Ketidakpastian geopolitik juga mengubah perilaku investor. Pelaku pasar umumnya mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas dan dolar Amerika Serikat. Sebaliknya, pasar saham dan aset berisiko cenderung mengalami tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global.
Baca Juga:Â Menkeu Purbaya Prediksi Harga Pertamax Turun Berkat Redanya Konflik AS-Iran
Harga Minyak Menjadi Penentu Arah Ekonomi Global
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai lonjakan harga minyak menjadi dampak paling nyata dari konflik Iran dan Amerika Serikat.
“Kenaikan harga minyak dunia menimbulkan krisis energi dunia, yang menyebabkan inflasi yang mengganggu perekonomian dunia.”




