Situasi Memanas: 544 Orang Tewas dalam Protes Iran, Pemerintah Serukan Perlawanan Nasional

Korban tewas akibat penindakan keras terhadap demonstran di Iran telah mencapai sedikitnya 544 jiwa, menurut kelompok aktivis HAM. (X/clashreport)

URBANCIY.CO.ID – Gelombang protes yang berkelanjutan terus mengguncang Iran meskipun penindakan aparat keamanan ditingkatkan secara masif oleh pemerintah.

Informasi terkini menunjukkan bahwa jumlah korban tewas terus bertambah, sementara pembatasan akses komunikasi seperti pemadaman internet dan pemblokiran jaringan telepon seluler semakin menyulitkan pemantauan situasi di lapangan secara komprehensif.

Laporan mengenai kondisi terkini, jumlah korban, serta pemblokiran komunikasi ini disampaikan oleh para jurnalis dan kelompok pembela hak asasi manusia (HAM).

Kepada media Jerman, DW, seorang aktivis Jerman-Iran, Daniela Sepheri, memaparkan risiko besar yang dihadapi warga saat turun ke jalan untuk berdemonstrasi.

“Rezim sedang berjuang untuk mempertahankan kekuasaan, tapi rakyat Iran juga sedang berjuang,” kata Daniela Sepheri kepada DW.

Baca Juga : Tahun Ini Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5,6 Persen Meski Dunia Dilanda Ketidakpastian

Menurut Sepheri, meskipun situasi di lapangan sangat berbahaya, hal itu tidak menyurutkan tekad para demonstran.

“Sangat berbahaya bagi orang-orang untuk keluar dan berdemonstrasi, tapi mereka tetap melakukannya. Kami menerima laporan-laporan yang mengerikan tentang pembantaian,” ujar Sepheri.

Ia menambahkan, aparat keamanan secara langsung menargetkan serangan kepada para pengunjuk rasa, dan bahkan berupaya “masuk ke dalam rumah sakit untuk menculik para korban yang terluka.”

Sepheri juga menyoroti sulitnya memverifikasi laporan korban tewas dan luka-luka akibat pembatasan akses informasi.

“Sangat sulit memverifikasi angka-angka yang kami terima karena pemadaman internet. Melalui Starlink, beberapa video masih memungkinkan untuk diakses. Media Iran di luar negeri coba memverifikasinya sepanjang hari,” jelasnya.

“Kami hanya bisa memperkirakan bahwa dalam dua atau tiga hari terakhir saja, mungkin sudah ada ribuan orang yang dibunuh,” lanjut Sepheri, menekankan besarnya korban yang mungkin terjadi.

Menanggapi alasan di balik kerasnya penindakan terhadap aksi protes, Sepheri berpendapat bahwa kekerasan adalah satu-satunya respons rezim.

“Ini satu-satunya jawaban yang dimiliki rezim dan hal ini sudah berlangsung selama puluhan tahun. Kita sudah melihat dalam protes sebelumnya, rezim hanya menjawab dengan kekerasan karena mereka tidak peduli dengan tuntutan rakyat,” paparnya.

Sepheri menilai tingkat kekerasan aparat dalam penindakan kali ini belum pernah ia saksikan sebelumnya di Iran.

“Penindakan seperti ini adalah yang paling brutal yang pernah kami lihat,” ucap Sepheri, sambil menambahkan “secara pribadi, saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.”

Lebih lanjut, Sepheri menjelaskan konteks sosial yang melatarbelakangi situasi saat ini.

“Kesenjangan antara yang kaya dan miskin sangat besar sehingga kelas menengah hampir tidak ada lagi di Iran dan semakin kaya kaum elite, semakin miskin rakyat,” papar Sepheri.

Data dari berbagai kelompok aktivis melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat penindakan terhadap protes nasional di Iran telah melonjak menjadi sedikitnya 544 orang.

Lembaga HAM yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), juga mencatat bahwa lebih dari 10.600 orang telah ditahan.

Menurut HRANA, sebanyak 496 korban tewas adalah demonstran, sementara 48 lainnya adalah anggota pasukan keamanan. HRANA memperkirakan bahwa angka-angka ini masih akan terus bertambah.

HRANA menyatakan bahwa data korban yang dirilis didasarkan pada laporan yang telah diverifikasi silang dari para aktivis di dalam dan luar Iran. Mereka mengklaim telah menyajikan data korban yang akurat pada gelombang kerusuhan sebelumnya. Namun, Pemerintah Iran belum merilis angka korban secara keseluruhan.

Pemerintah Iran pada Minggu (11/01) mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari bagi anggota pasukan keamanan yang tewas selama dua pekan protes, sebagaimana dilaporkan oleh televisi pemerintah.

Otoritas Iran menyebut aksi-aksi protes tersebut sebagai “kerusuhan” dan memberikan gelar “martir” kepada aparat yang tewas, menggambarkan mereka gugur dalam “pertempuran perlawanan nasional Iran” melawan Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah di Teheran juga menuding rival geopolitik melakukan intervensi dan memicu gelombang protes di dalam negeri.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengumumkan rencana penyelenggaraan pawai yang disebut sebagai “aksi perlawanan nasional” yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (12/01).

Nazenin Ansari, seorang jurnalis Iran sekaligus pemimpin redaksi media Kayhan London, menyatakan kepada DW bahwa demonstrasi yang berlangsung saat ini di Iran berbeda dari gelombang protes besar sebelumnya karena adanya figur pemimpin yang jelas, yaitu putra mahkota yang hidup di pengasingan sejak keluarganya digulingkan pada Revolusi Iran 1979.

“Aksi protes ini sebenarnya bukan hal baru, karena sudah dimulai sejak 2017,” kata Ansari. Ia menambahkan bahwa yang dimaksud adalah aksi-aksi yang bersifat “sangat sekuler dan tidak menggunakan narasi agama atau Islam.”

“Jadi, yang berbeda dari protes hari ini adalah bahwa gerakan ini memiliki seorang pemimpin, yaitu Pangeran Reza Pahlavi,” jelasnya.

Reza Pahlavi adalah putra dari shah terakhir Iran, Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan pada 1979 dalam Revolusi Islam.

Ansari membandingkan demonstrasi saat ini dengan gelombang protes besar pada 2017 dan 2019, serta gerakan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” pada 2022.

“Inilah yang membuat protes kali ini semakin menguat,” papar Ansari, merujuk pada sosok Reza Pahlavi sebagai pemimpin. Ia juga menambahkan bahwa “berbagai arus politik” di dalam oposisi kini mulai bekerja sama.

Mengenai langkah selanjutnya, aktivis Daniela Sepheri mengungkapkan harapannya agar rakyat Iran dapat menentukan masa depan mereka sendiri.

“Harapan saya adalah rakyat Iran bisa mengubah masa depan dan negaranya sesuai dengan kehendak mereka sendiri, melalui pemilu yang bebas dan sebuah referendum,” tegas Sepheri.

Terkait kemungkinan runtuhnya rezim pemerintahan Iran saat ini dan potensi kembalinya monarki, Sepheri menekankan bahwa “hal tersebut adalah sesuatu yang harus diputuskan oleh rakyat Iran. Ada yang ingin shah kembali, ada juga yang tidak,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa kelompok minoritas etnis pada umumnya “tidak menginginkan kembalinya shah.”

Sementara itu, putra shah terakhir Iran, Reza Pahlavi, sebelumnya telah menyatakan keinginannya untuk kembali ke Iran dan memainkan peran politik.

Iran dikenal sebagai negara dengan keragaman etnis dan bahasa yang tinggi. Meskipun lebih dari 60 persen penduduknya berasal dari etnis Persia, wilayah yang dihuni minoritas Kurdi dan Baluch kerap menjadi pusat gejolak dalam berbagai gelombang protes di negara tersebut.

Related Posts

Add New Playlist

news-1701

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

\

sabung ayam online

sabung ayam online

SLOT MAHJONG

sabung ayam online

article 0000141

article 0000142

article 0000143

article 0000144

article 0000145

article 0000146

article 0000147

article 0000148

article 0000149

article 0000150

article 0000151

article 0000152

article 0000153

article 0000154

article 0000155

article 0000156

article 0000157

article 0000158

article 0000159

article 0000160

article 0000161

article 0000162

article 0000163

article 0000164

article 0000165

article 0000166

article 0000167

article 0000168

article 0000169

article 0000170

article 0000171

article 0000172

article 0000173

article 0000174

article 0000175

article 0000176

article 0000177

article 0000178

article 0000179

article 0000180

article 0000181

article 0000182

article 0000183

article 0000184

article 0000185

article 0000186

article 0000187

article 0000188

article 0000189

article 0000190

article 00046

article 00047

article 00048

article 00049

article 00050

article 00051

article 00052

article 00053

article 00054

article 00055

article 00056

article 00057

article 00058

article 00059

article 00060

article 00061

article 00062

article 00063

article 00064

article 00065

article 00066

article 00067

article 00068

article 00069

article 00070

article 00071

article 00072

article 00073

article 00074

article 00075

article 00076

article 00077

article 00078

article 00079

article 00080

article 00081

article 00082

article 00083

article 00084

article 00085

article 00086

article 00087

article 00088

article 00089

article 00090

article 00091

article 00092

article 00093

article 00094

article 00095

article 888836

article 888837

article 888838

article 888839

article 888840

article 888841

article 888842

article 888843

article 888844

article 888845

article 888846

article 888847

article 888848

article 888849

article 888850

article 888851

article 888852

article 888853

article 888854

article 888855

article 888856

article 888857

article 888858

article 888859

article 888860

article 888861

article 888862

article 888863

article 888864

article 888865

articel 000000171

articel 000000172

articel 000000173

articel 000000174

articel 000000175

articel 000000176

articel 000000177

articel 000000178

articel 000000179

articel 000000180

articel 000000181

articel 000000182

articel 000000183

articel 000000184

articel 000000185

articel 000000186

articel 000000187

articel 000000188

articel 000000189

articel 000000190

articel 000000191

articel 000000192

articel 000000193

articel 000000194

articel 000000195

articel 000000196

articel 000000197

articel 000000198

articel 000000199

articel 000000200

articel 000000201

articel 000000202

articel 000000203

articel 000000204

articel 000000205

articel 000000206

articel 000000207

articel 000000208

articel 000000209

articel 000000210

articel 000000211

articel 000000212

articel 000000213

articel 000000214

articel 000000215

articel 000000216

articel 000000217

articel 000000218

articel 000000219

articel 000000220

article 2000136

article 2000137

article 2000138

article 2000139

article 2000140

article 2000141

article 2000142

article 2000143

article 2000144

article 2000145

article 2000146

article 2000147

article 2000148

article 2000149

article 2000150

article 2000151

article 2000152

article 2000153

article 2000154

article 2000155

article 2000156

article 2000157

article 2000158

article 2000159

article 2000160

article 2000161

article 2000162

article 2000163

article 2000164

article 2000165

article 2000166

article 2000167

article 2000168

article 2000169

article 2000170

article 2000171

article 2000172

article 2000173

article 2000174

article 2000175

article 2000176

article 2000177

article 2000178

article 2000179

article 2000180

article 2000181

article 2000182

article 2000183

article 2000184

article 2000185

article 838000421

article 838000422

article 838000423

article 838000424

article 838000425

article 838000426

article 838000427

article 838000428

article 838000429

article 838000430

article 838000431

article 838000432

article 838000433

article 838000434

article 838000435

article 838000436

article 838000437

article 838000438

article 838000439

article 838000440

article 838000441

article 838000442

article 838000443

article 838000444

article 838000445

article 838000446

article 838000447

article 838000448

article 838000449

article 838000450

article 838000451

article 838000452

article 838000453

article 838000454

article 838000455

article 838000456

article 838000457

article 838000458

article 838000459

article 838000460

news-1701