URBANCITY.CO.ID – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu penetrasi pasar industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan nasional.
Melalui skema business matching, pemerintah berupaya mempertemukan para perajin lokal dengan pembeli potensial (buyer) serta memperkuat jejaring kemitraan lintas sektor, termasuk industri hospitality.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa temu bisnis merupakan langkah strategis untuk memperluas ekosistem industri kerajinan agar lebih berdaya saing. Ia menilai sektor ini memiliki keunggulan komparatif berkat kekayaan budaya dan kreativitas tinggi.
Menurutnya, melalui forum business matching, pelaku IKM kerajinan dapat berinteraksi langsung dengan buyer dan mitra industri sehingga membuka peluang kerja sama yang lebih luas.
Baca Juga: Tembus Pasar Dunia, IKM Kerajinan asal Bantul Raup Ekspor Rp1,83 Miliar
“Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat ekosistem industri kerajinan nasional agar semakin berdaya saing,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 16 Maret 2026.
Ekspor Kerajinan Tumbuh Signifikan
Optimisme pemerintah bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Kemenperin, kinerja ekspor produk kerajinan Indonesia pada tahun 2025 tercatat mencapai USD 806,63 juta.
Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 15,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka USD 698,62 juta. Pasar utama produk kriya ini meliputi Amerika Serikat, Jepang, hingga kawasan Eropa.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, menjelaskan bahwa kegiatan di Yogyakarta pada 10 Maret lalu merupakan bagian dari strategi meningkatkan kesiapan IKM.




