URBANCITY.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran melalui platform media sosialnya, Truth Social, pada Rabu, 22 April 2026. Namun, langkah ini dinilai sejumlah pakar bukan sebagai bentuk diplomasi yang tulus, melainkan upaya menutupi kegagalan posisi tawar Washington.
Pakar kebijakan luar negeri Amerika Serikat, Barbara Slavin, menilai keputusan mendadak ini diambil setelah Iran dengan tegas menolak hadir dalam perundingan putaran kedua di Islamabad, Pakistan. Padahal, AS dilaporkan sudah bersiap mengirimkan delegasi tingkat tinggi.
“[Pernyataan itu adalah] cara untuk menutupi rasa malu karena AS siap mengirim wakil presiden ke Pakistan sementara Iran tidak siap melakukan hal yang sama,” kata Slavin seperti dikutip dari Al Jazeera.
Gagalnya Perundingan Islamabad
Sedianya, kedua negara dijadwalkan bertemu awal pekan ini untuk menindaklanjuti gencatan senjata dua pekan yang berlaku sejak 8 April lalu. Namun, Teheran memutuskan boikot sebagai respons atas ancaman-ancaman yang dilontarkan Trump sebelumnya.
Baca Juga : Trump Tegaskan Blokade Pelabuhan Iran Tak Akan Dicabut Sebelum Ada Kesepakatan Damai
Slavin menambahkan bahwa Trump kini berada dalam posisi dilematis karena ekskalasi militer tidak berjalan sesuai rencana awal. Terlebih, Iran memperkuat posisinya di kawasan strategis. “Perang ini tidak berjalan sesuai harapannya sejak awal, dan Iran telah menemukan pengaruh baru dalam kendalinya atas Selat Hormuz,” ujar Slavin.
Menurutnya, Washington harus mulai melunakkan sikap jika ingin dialog berhasil. AS, kata Slavin, harus “melepaskan tuntutan maksimalnya” dan menawarkan Iran semacam isyarat bahwa mereka serius mencari solusi.”




