URBANCITY.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan sikap keras terkait ketegangan di Timur Tengah. Trump menegaskan bahwa militer Amerika Serikat tidak akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran hingga kesepakatan diplomatik antar kedua negara tercapai.
Pernyataan ini muncul di tengah masa gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada Rabu, 22 April 2026. Hingga kini, kepastian mengenai keberlanjutan pembicaraan damai guna menghentikan eskalasi perang masih dibayangi ketidakpastian.
“Blokade yang dimulai seminggu lalu ini benar-benar menghancurkan Iran,” klaim Trump dalam unggahannya di platform media sosial Truth Social, Selasa, 21 April 2026.
Trump bahkan mengeklaim bahwa pihaknya telah memenangkan konflik tersebut dengan selisih yang besar, meskipun situasi di lapangan masih sangat dinamis.
Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka, Aliran Minyak Dunia Butuh Bertahun-tahun untuk Pulih Total
Ketegangan di Selat Hormuz dan Penyitaan Kapal
Berdasarkan data dari Komando Pusat AS (Centcom), sejak blokade diberlakukan, pasukan AS telah memerintahkan sedikitnya 27 kapal untuk memutar arah kembali ke pelabuhan Iran. Insiden paling krusial terjadi pada Minggu, 19 April 2026, ketika AS untuk pertama kalinya menyita kapal kargo berbendera Iran yang mencoba menerobos barikade.
Teheran bereaksi keras atas tindakan tersebut. Pemerintah Iran menyebut aksi militer AS sebagai “tindakan pembajakan” dan pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata. Sebaliknya, Trump menuduh Iran sebagai pihak pertama yang melanggar perjanjian dengan melepaskan tembakan di wilayah konflik.
“Iran memutuskan untuk menembakkan peluru dan itu merupakan pelanggaran total terhadap perjanjian gencatan senjata,” tuduh Trump.




