URBANCITY.CO.ID – Pemerintah Iran berencana memberikan pengecualian tarif bagi kapal-kapal dari negara sahabat yang melintasi Selat Hormuz. Kebijakan ini muncul di tengah langkah Teheran memperketat kendali di jalur pelayaran minyak paling vital di dunia tersebut.
Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, mengungkapkan bahwa saat ini otoritas terkait tengah menggodok skema pengecualian tersebut. Rusia, sebagai salah satu sekutu strategis Iran, dipastikan masuk dalam daftar prioritas.
“Kami telah memberikan pengecualian untuk beberapa negara. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” kata Duta Besar Iran untuk Moskow, Kazem Jalali, kepada kantor berita RIA Novosti, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Jalali menambahkan bahwa koordinasi lintas kementerian sedang dilakukan untuk mematangkan kebijakan ini. “Saat ini, Kementerian Luar Negeri kami sedang berupaya menggunakan pengecualian yang diberikan untuk negara-negara sahabat, misalnya Rusia,” ujarnya.
Baca Juga : Tensi Timur Tengah Picu Harga Plastik, Kemenperin Pacu Inovasi Kemasan Alternatif
Diskriminasi Tarif dan Diplomasi Jalur Laut
Rencana pemungutan tarif ini tidak akan dipukul rata. Teheran dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk membebaskan biaya bagi negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik erat, seperti China, Rusia, dan Pakistan.
Sebaliknya, bagi negara lain, Iran mengajukan syarat pengendalian selat dengan kemungkinan tarif mencapai US$ 2 juta (sekitar Rp 34,19 miliar). Langkah ini merupakan bagian dari proposal perdamaian yang diajukan Iran, meski hingga kini Amerika Serikat belum memberikan pengakuan resmi atas klaim sepihak tersebut.
Pengetatan di Selat Hormuz meningkat signifikan sejak serangan AS-Israel pada akhir Februari lalu. Iran mulai membatasi lintasan kapal dan mewajibkan setiap armada melakukan koordinasi militer sebelum melintas. Dalam praktiknya, sejumlah kapal dilaporkan telah membayar biaya tertentu demi mendapatkan jaminan keamanan.




