URBANCITY.CO.ID – Jagat media sosial Instagram baru-baru ini diramaikan oleh unggahan yang menyebut penggunaan deodoran dapat memicu kanker payudara. Narasi tersebut mengklaim bahwa kandungan aluminium dalam produk pencegah bau badan itu dapat meresap ke kulit dan menyebabkan benjolan di sekitar payudara.
“Dokter ini menjelaskan agar berhati-hati dalam menggunakan deodorant yang berpotensi menyebabkan kanker karena kandungannya. Ia menyarankan wanita untuk tidak menggunakan produk yang mengandung aluminium, karena disebut dapat memicu munculnya benjolan di sekitar payudara. Salah satu cirinya, setelah dioleskan, ketiak bisa tetap kering hingga lima hari meski tidak mandi,” tulis akun Instagram @rum******* pada Senin, 27 April 2026.
Minim Bukti Klinis
Menanggapi isu yang meresahkan masyarakat tersebut, Dokter Spesialis Penyakit Dalam lulusan Universitas Indonesia (UI), dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD(K), angkat bicara. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada data medis yang secara sahih mendukung klaim tersebut.
“Sebenarnya belum ada bukti klinis yang kuat terkait dengan informasi soal deodoran bikin kanker payudara,” kata Andi saat dihubungi pada Rabu, 29 April 2026.
Baca Juga : Prabowo Ancam Pengusaha yang Simpan Uang di Luar Negeri: Tak Ada Tempat di Sekitar Saya
Andi menjelaskan, dugaan tersebut kemungkinan muncul karena aluminium merupakan salah satu komponen dasar (base component) dalam banyak produk deodoran. Secara teoritis, muncul kekhawatiran bahwa aluminium yang dioleskan pada ketiak akan masuk ke dalam kulit, tersirkulasi melalui darah, mengganggu hormon, hingga menyebabkan sel menjadi abnormal.
“Mungkin idenya datang dari dugaan bahwa aluminium yang dioleskan, kan deodoran tuh salah satu base komponennya adalah aluminium ya,” tuturnya. Namun, ia kembali menekankan bahwa dugaan tersebut belum terbukti secara klinis.




