URBANCITY.CO.ID – Membandingkan ongkos produksi antara pabrikan mobil listrik (EV) asal Tiongkok seperti BYD dengan raksasa otomotif tradisional dari Jepang dan Eropa adalah melihat benturan dua era industri yang berbeda.
BYD saat ini dikenal sebagai “raja efisiensi biaya” global. Berbagai studi dari lembaga analisis dunia (seperti UBS dan BloombergNEF) menunjukkan bahwa BYD memiliki keunggulan biaya yang sangat masif.
Berikut adalah analisis perbandingan estimasi ongkos produksi BYD Sealion 7 dengan kendaraan listrik sejenis (kelas Medium SUV EV) dari Jepang (seperti Toyota bZ4X) dan Eropa (seperti VW ID.4 atau BMW iX3).
1. Integrasi Vertikal yang Ekstrim (Rahasia Utama BYD)
Pabrikan Jepang dan Eropa umumnya bekerja sebagai “perakit”. Mereka membeli baterai dari CATL atau LG, membeli cip dari Nvidia, dan membeli lampu dari Hella. Setiap vendor mengambil untung, sehingga ongkos produksi membengkak.
Baca Juga:Â Mengulas Spesifikasi dan Performa BYD Sealion 7: Di Balik Kenyamanan dan Isu Viral
BYD: Memiliki strategi integrasi vertikal. Sekitar 75% hingga 80% komponen BYD Sealion 7 dibuat oleh BYD sendiri. Mereka menambang litium sendiri, membuat baterai (Blade Battery) sendiri, hingga memproduksi cip semikonduktor sendiri.
BYD hanya membeli ban dan kaca dari luar. Ini memotong margin keuntungan vendor pihak ketiga secara total.
2. Keunggulan Teknologi Baterai LFP
Baterai adalah komponen paling mahal dalam sebuah EV, menyerap sekitar 30% hingga 40% total ongkos produksi mobil.
BYD Sealion 7: Menggunakan Blade Battery berbasis kimia LFP (Lithium Iron Phosphate). Biaya produksi LFP jauh lebih murah karena tidak menggunakan nikel dan kobalt yang harganya mahal dan fluktuatif.




