URBANCITY.CO.ID – Belakangan ini, muncul tren baru di kalangan pendaki amatir: menjadikan gunung sebagai pelarian untuk menyembuhkan luka emosional. Ungkapan “jika patah hati, pergilah ke gunung” seolah menjadi mantra populer. Namun, benarkah mendaki gunung atau berjalan kaki jarak jauh efektif secara psikologis untuk memulihkan trauma?
Bagi sebagian besar orang, mendaki gunung mungkin hanya dianggap sebagai olahraga rekreasi biasa. Namun bagi para penyintas trauma, menyusuri jalur pendakian panjang ternyata menyimpan kekuatan transformatif yang mendalam. Berada dalam waktu lama di alam liar terbukti memberikan ruang terapeutik untuk mencerna kembali pengalaman hidup yang menyakitkan.
Belajar dari Sejarah Appalachian Trail
Praktik menggunakan jalur pendakian sebagai sarana pemulihan psikologis sebenarnya bukan hal baru. Dikutip dari Psychology Today, Kamis, 4 Juni 2026, sejarah mencatat kisah Earl Shaffer pada tahun 1948. Veteran Perang Dunia II ini memutuskan berjalan kaki menyusuri Appalachian Trail yang saat itu belum terawat dengan misi utama “berjalan kaki menghilangkan perang”.
Baca Juga :Â Menembus Kabut Pegunungan Arfak, PLN Nyalakan Listrik 24 Jam di Pedalaman Papua
Meskipun pada masa itu istilah gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) belum dikenal secara medis, Schaffer mencatat dalam jurnalnya bahwa ia merasa “putus asa dan patah hati”.
Schaffer memproses perjalanan batinnya dengan menulis buku harian di sepanjang rute yang keras tersebut. Ia sangat percaya bahwa pendakian itu telah menyelamatkan hidupnya, membangkitkan kembali tujuan hidupnya, dan memulihkan kemampuannya untuk memercayai orang lain.
Kepercayaan itu tumbuh berkat kebaikan orang-orang asing di kota-kota kecil sepanjang rutes, yang ia juluki sebagai “trail angels”. Shaffer pun tercatat sebagai orang pertama yang berhasil menyelesaikan seluruh rute Appalachian Trail.




