UBANCITY.CO.D – Lanskap ekonomi global belakangan ini tak ubahnya lautan yang diamuk badai. Konflik bersenjata di Timur Tengah yang tak kunjung padam telah memaksa harga energi bertengger di level tinggi, yang pada gilirannya meniup saklar inflasi global ke zona merah.
Imbasnya berantai: pasar kini dipaksa bersiap menghadapi era suku bunga tinggi yang lebih lama (higher for longer), memicu lonjakan yield obligasi pemerintah di berbagai belahan dunia, dan menguras arus modal dari negara berkembang.
Namun, di dalam negeri, benteng pertahanan sektor jasa keuangan diklaim masih kokoh berdiri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan roda intermediasi domestik tetap berputar stabil di tengah guncangan tersebut.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, membeberkan peta jalan OJK dalam membaca dinamika global serta menjaga otot finansial nasional agar tidak kedodoran.
Baca Juga:Â Perkuat Permodalan, OJK Pacu Konsolidasi Ratusan BPR/S Sepanjang Tahun 2026
“Kami menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) terjaga di tengah peningkatan inflasi global dan volatilitas pasar keuangan. Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berlanjut menyebabkan harga energi tetap tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi global,” ujarnya, usai Rapat Dewan Komisioner (RDK) Mei, dikutip Sabtu (6/6).
Kondisi ini, sambungnya, memperkuat ekspektasi suku bunga global yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama (higher for longer) sehingga mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah di berbagai negara.




