URBANCITY.CO.ID – Layar perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia sepanjang Mei 2026 didominasi warna merah. Ketidakpastian ekonomi global yang tak kunjung mereda memaksa para pemegang modal kakap merombak portofolio mereka secara masif.
Imbasnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlempar ke zona konsolidasi. Namun, riak di bursa saham ini diklaim belum sampai merontokkan jangkar fundamental pasar modal domestik.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menegaskan bahwa ekosistem bursa nasional masih memiliki daya tahan yang tebal dan likuiditas yang terjaga dengan baik.
Otot Likuiditas dan Serbuan Investor Lokal
Meski IHSG menutup bulan Mei dengan nangkring di level 6.127,38—terkoreksi 11,92 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) atau anjlok 29,14 persen sejak awal tahun (year-to-date/ytd)—aktivitas transaksi justru mencatatkan lonjakan gila-gilaan.
Baca juga: Bos OJK: Menjaga Jangkar Finansial di Tengah Badai ‘Higher for Longer’
“Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) melesat menjadi Rp22,86 triliun, jauh meninggalkan catatan April yang mandek di level Rp18,51 triliun,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (7/6).
Daya pikat bursa Indonesia di mata investor domestik tampaknya menjadi penyelamat di kala pemodal asing getol angkat kaki.
Sepanjang Mei, investor asing memang membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp4,10 triliun di pasar saham. Namun, angka ini resmi menyusut drastis dibanding badai net sell April yang menembus Rp17,02 triliun.




