URBANCITY.CO.ID – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali meningkat dan menuntut perhatian ekstra dari pelaku industri pariwisata serta kaum urban yang merencanakan liburan alam terbuka di kawasan Jawa Timur.
Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur tercatat mengalami 21 kali gempa letusan/erupsi selama enam jam terakhir pada Jumat (28/8) pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
“Dalam pengamatan kegempaan tercatat 21 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-22 mm, dan lama gempa 67-120 detik,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi mengutip Antara pada Jumat.
Data Kegempaan dan Mitigasi Sektor Wisata
Baca Juga: Gunung Semeru Meletus Dahsyat, Warga Lumajang Mengungsi ke Balai Desa
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat Gunung Semeru mengalami dua kali gempa guguran dengan amplitudo 2-12 mm dan lama gempa 56-88 detik, dua kali gempa hembusan beramplitudo 6-8 mm berdurasi 52-77 detik, serta dua kali gempa tektonik jauh beramplitudo 5-17 mm dengan durasi 68-113 detik.
“Secara visual gunung api terlihat jelas. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah, angin lemah ke arah tenggara dan selatan,” tuturnya.
Zona Bahaya dan Proteksi Investasi Lokal
Ia menjelaskan, saat ini aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada status Level III atau Siaga dengan rekomendasi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
Baca Juga: Hilang di Gunung Piramid Bondowoso, Dua Pendaki Ditemukan Meninggal Dunia
“Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” ujarnya.
Pihak berwenang melarang seluruh aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah utama demi melindungi keselamatan warga serta menjaga stabilitas operasional rantai pasok logistik di kawasan sekitar.
“Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” ucap Yadi.
Penutupan Akses Jalur dan Proteksi Ekosistem
Baca Juga: Tak Cuma Olahraga, Ini Alasan Mendaki Gunung Bisa Membantu Pulihkan Trauma
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) memberlakukan penutupan total jalur pendakian Gunung Semeru sejak 26 Agustus 2026 karena terjadi kebakaran hutan di Blok Ranu Kembang dan semua pendaki yang berada di kawasan tersebut sudah turun pada Kamis (27/8/2026).
Langkah preventif ini memberi kepastian keamanan bagi para pelancong gaya hidup urban agar mengalihkan agenda perjalanan ke destinasi alternatif yang lebih aman.




