URBANCITY.CO.ID — BMKG memantau kemunculan bibit siklon tropis di Indonesia dan perairan sekitarnya. Fenomena ini menarik perhatian publik. Pasalnya, sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami musim kemarau.
Sirkulasi siklon memicu pergeseran pola angin. Pasokan uap air di atmosfer pun meningkat drastis. Akibatnya, potensi hujan lebat, angin kencang, hingga gelombang tinggi meningkat di berbagai perairan.
Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani memberi penjelasan khusus. Ia menyebut fenomena ini berkaitan erat dengan dinamika atmosfer regional. Aktivitas siklon di Belahan Bumi Utara (BBU) meningkat pada Juli hingga November. Puncak pertumbuhannya terjadi pada rentang September sampai Oktober.
“Karena saat ini akhir Agustus, kemunculan sistem siklon di sekitar BBU sebelah utara Indonesia memang masih berada pada periode aktifnya,” kata Andri, Kamis (27/8/2026).
Baca Juga : Revitalisasi UMKM Sumatera: Peluang Investasi dan Akselerasi Ekonomi
Bukan Tanda Masuk Musim Hujan
Siklon tidak harus melintasi daratan Indonesia secara langsung. Sistem siklon di perairan utara mampu membentuk pumpunan angin. Kondisi ini merangsang pertumbuhan awan hujan di beberapa daerah.
Meskipun memicu hujan, fenomena bibit siklon tropis di Indonesia bukan tanda musim hujan tiba.
“Namun, kemunculan siklon tidak serta-merta menunjukkan bahwa musim hujan akan segera dimulai,” ucap Andri.
Andri menegaskan hujan akibat siklon hanya berlangsung sementara. BMKG menerapkan indikator ketat untuk menentukan awal musim hujan. Parameter tersebut mencakup perubahan monsun, lonjakan kelembapan udara, serta konsistensi hujan dalam hitungan dasarian.
“Jadi, munculnya bibit siklon saat ini lebih tepat dipandang sebagai bagian dari dinamika atmosfer regional, bukan sebagai penanda tunggal bahwa musim hujan sudah akan segera tiba,” pungkasnya.




