URBANCITY.CO.ID – Pemerintah Indonesia mengambil langkah progresif dengan menjajaki Preferential Trade Agreement (PTA) bersama Maroko, terkait industri manufaktur.
Tujuannya jelas, untuk menggenjot ekspor manufaktur nasional hingga ke kawasan Mediterania.
Langkah strategis ini menempatkan Maroko sebagai pintu masuk vital bagi produk Indonesia untuk menembus pasar Afrika Utara yang terus berkembang.
Bagi para investor dan pelaku bisnis urban, kolaborasi ini menciptakan peluang diversifikasi pasar yang luas.
Selain itu, mengamankan rantai pasok bahan baku industri strategis seperti fosfat dan aluminium.
Ekspansi ini mencerminkan ambisi besar Indonesia untuk memperkuat daya saing manufaktur di kancah global.
Baca juga: Efisiensi Industri Manufaktur: Kemenperin Perkuat HGBT untuk Dorong Daya Saing dan Ekspansi RI
Bahkan, mampu menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional.
Wakil Menteri Perindustrian RI, Faisol Riza menyebut, Maroko memiliki posisi strategis sebagai gerbang menuju Afrika Utara dan kawasan Mediterania.
Ia pun melihat peluang besar untuk memanfaatkan keunggulan tersebut untuk memperluas akses produk industri Indonesia ke pasar regional.
“Sekaligus memperkuat kemitraan di sektor-sektor industri masa depan seperti dirgantara, industri halal, farmasi, dan energi baru terbarukan,” ujarnya.
Revolusi Industri Halal Global
Kemitraan Indonesia dan Maroko kini semakin solid melalui Mutual Recognition Agreement (MRA) sertifikasi halal.
Kerja sama ini mampu memangkas hambatan birokrasi perdagangan bagi produk bernilai tambah tinggi.




