Baca juga: Transformasi Pertanian Era Prabowo: Pupuk Murah dan NTP Tertinggi dalam 34 Tahun demi Kedaulatan
Untuk menghadapi kenaikan biaya dana, Bank Jakarta menyiapkan sejumlah strategi, salah satunya memperkuat diversifikasi sumber pendanaan.
Agus mengatakan perseroan juga akan mengoptimalkan penghimpunan dana murah (low-cost fund) yang berasal dari ekosistem Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga efisiensi biaya dana sekaligus memperkuat likuiditas perusahaan di tengah persaingan penghimpunan dana yang semakin ketat.
Fundamental Industri Dinilai Masih Kuat
Di sisi lain, Agus menilai fundamental industri perbankan nasional masih berada dalam kondisi yang solid.
Hal itu terlihat dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, tingkat permodalan yang memadai, likuiditas yang terjaga, serta rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang masih terkendali.
Baca juga: Sinergi Pemerintah dan DPR: Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional di Tengah Dinamika Global
“Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah,” ujarnya.
Menurut Agus, industri keuangan dalam beberapa tahun terakhir menghadapi berbagai tantangan yang sulit diprediksi, mulai dari pandemi COVID-19, konflik geopolitik global, hingga perubahan kebijakan perdagangan internasional yang berdampak terhadap pasar keuangan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Bank Jakarta terus mempercepat transformasi di berbagai lini bisnis.
Transformasi tersebut meliputi penguatan digitalisasi layanan, manajemen risiko, pengembangan bisnis, hingga pembentukan budaya kerja baru yang lebih adaptif terhadap perubahan.




