Penumpukan Karbon Dioksida dan Risiko Sakit Kepala
Dampak negatif penggunaan AC di ruangan tertutup tidak hanya menyasar hidung. Minimnya sirkulasi udara di kamar yang terkunci rapat membuat kualitas udara menurun drastis karena polutan tidak dapat keluar.
“Kondisi ruangan yang tertutup dapat menyebabkan polutan dalam ruangan tidak dapat keluar dengan baik dan akan menyebabkan udara di dalam ruangan menjadi tidak sehat, serta terjadi penumpukan karbon dioksida di dalam ruangan,” ungkap Reza.
Efek akumulasi karbon dioksida inilah yang sering kali membuat seseorang terbangun dengan keluhan sakit kepala, badan lemas, dan kualitas tidur yang buruk.
Kipas Angin dan Ancaman Reaksi Alergi
Bagi pengguna kipas angin, risiko yang dihadapi sedikit berbeda. Hembusan angin dari baling-baling kipas berpotensi menerbangkan mikropartikel berbahaya yang mengendap di dalam kamar.
“Angin dari kipas angin akan menyebarkan partikel-partikel yang berbahaya bagi saluran napas, seperti debu, spora jamur, dan bulu binatang, yang bisa menimbulkan reaksi alergi pada orang-orang tertentu,” kata Reza.
Bagi penderita rinitis alergi atau asma, paparan partikel terbang ini bisa langsung memicu serangan bersin-bersin hingga sesak napas di malam hari.
Tips Sehat Menggunakan AC dan Kipas Angin Saat Tidur
Untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan THT tersebut, dr. Reza Mahardhika membagikan beberapa langkah mitigasi praktis:
-
Ubah Arah Hembusan: “Untuk memitigasi efek buruk tersebut, kita bisa memosisikan agar kipas angin dan AC tidak langsung mengenai wajah,” saran Reza.
-
Atur Suhu Ideal: Setel suhu AC pada kisaran 24-26 derajat Celsius agar udara kamar tidak terlalu kering.
-
Gunakan Humidifier: Alat pelembab udara bisa membantu menjaga kestabilan kelembaban ruangan.
-
Jaga Kebersihan Perangkat: “Kipas angin dan AC sebaiknya dibersihkan tiap 2-4 minggu, setel AC jangan terlalu dingin, dan jaga kelembaban udara dalam ruangan,” tuturnya.




