URBANCITY.CO.ID – Kemerosotan rupiah. Laju pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akhirnya memaksa para pemegang otoritas keuangan negara turun dari menara gading mereka.
Bertempat di Kompleks Parlemen Senayan pada Sabtu (6/6), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengambil inisiatif mengumpulkan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI) dalam sebuah rapat koordinasi kilat.
Hajatan ini digelar bukan sekadar untuk saling lempar tanggung jawab atas lesunya mata uang garuda, melainkan sebagai forum evaluasi makro.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyebut kongko darurat ini menjadi wadah krusial bagi otoritas fiskal dan moneter untuk kembali menyamakan persepsi dan memperketat barisan.
“Dan alhamdulillah, hasil koordinasi pada hari ini telah menghasilkan beberapa kesepakatan,” jelas Dasco dalam konferensi pers seusai rapat di Kompleks Parlemen Senayan, Sabtu (6/6).
Gubernur BI Perry Warjiyo membeberkan bahwa ketegangan geopolitik dan tingginya suku bunga global memaksa kedua lembaga merumuskan dua strategi penangkal.
“Dua hal itu yang kami lakukan. Kami sepakat ini akan terus kita lakukan penguatan koordinasi, yang sudah kuat selama ini, sekarang diperkuat,” pungkas Perry.
Siasat Pertama: Mempercantik Umpan Portofolio
Jurus pertama yang disepakati adalah mempertebal pasokan valuta asing di dalam negeri melalui skema berburu arus modal asing masuk (capital inflow).
Caranya: pemerintah dan bank sentral sepakat untuk mengerek daya tarik imbal hasil (yield) instrumen surat utang milik mereka.




