Kenaikan BI-Rate dan tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menyerap likuiditas pasar. Akibatnya, biaya penghimpunan dana meningkat dan bank harus lebih disiplin memilih portofolio kredit.
Bagi investor, langkah ini menunjukkan BTN lebih fokus menjaga kualitas laba dibanding mengejar pertumbuhan kredit agresif. Strategi tersebut biasanya dipandang positif karena membantu mempertahankan margin bunga bersih ketika siklus suku bunga sedang tinggi.
Kredit Perumahan Tetap Jadi Mesin Pertumbuhan
Di tengah pengetatan seleksi kredit, BTN tetap memprioritaskan pembiayaan perumahan melalui FLPP, KUR Perumahan, dan Kredit Program Perumahan (KPP). Kebijakan ini relevan dengan kebutuhan masyarakat urban yang terus menghadapi kenaikan harga hunian.
Per akhir Juni 2026, kredit dan pembiayaan konsolidasi BTN tumbuh 11,2 persen (yoy) menjadi Rp418,11 triliun. Kredit perumahan mencapai Rp332,88 triliun, sedangkan KPR subsidi tumbuh 8,1 persen menjadi Rp196,96 triliun.
Dari perspektif gaya hidup urban, angka tersebut menunjukkan permintaan rumah tetap kuat meski suku bunga tinggi. Generasi muda di kota besar masih menjadikan kepemilikan rumah sebagai aset utama untuk membangun keamanan finansial jangka panjang.
Bagi investor properti, konsistensi penyaluran KPR subsidi dan program perumahan pemerintah juga menjadi penanda bahwa pasar rumah menengah dan subsidi masih memiliki basis permintaan yang solid.
Likuiditas Membaik, Sinyal Positif bagi Investor
Nixon menyebut likuiditas sebagai faktor penentu utama strategi perbankan saat ini.




