“Game changer hari ini adalah likuiditas. Tidak bisa kita memaksakan kredit tumbuh dalam kondisi uang tidak ada. Likuiditas itu seperti darah dalam tubuh. Kalau darahnya berkurang, ya jangan dipaksa berlari kencang.”
BTN memantau kondisi tersebut melalui rapat asset liability committee (ALCO) setiap pekan. Tekanan likuiditas sebelumnya meningkat ketika penarikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) terjadi bersamaan dengan penyerapan likuiditas melalui SRBI dan penerbitan instrumen pemerintah.
Namun, situasi mulai membaik setelah pemerintah menempatkan kembali sebagian dana SAL ke bank-bank Himbara. BTN menerima tambahan dana hampir Rp13 triliun, yang membantu meredakan persaingan bunga deposito.
“Kecuali September, September sudah clear kita harus mengembalikan berapa. Mungkin setelah itu, karena ini kan ditariknya nanti pasti bertahap, kita cuma minta memperhatikan timing yang pas (ketika SAL akan ditarik oleh pemerintah),” kata Nixon.
Dari sisi fundamental, BTN juga menunjukkan perbaikan kualitas aset. Rasio NPL turun menjadi 2,99 persen, LAR menjadi 18,6 persen, CoC menjadi 0,7 persen, dan CAR naik menjadi 20 persen.
Kombinasi pertumbuhan kredit, kualitas aset yang membaik, serta likuiditas yang mulai mereda membuat BTN menarik untuk dicermati sebagai saham perbankan berbasis properti. Sementara bagi masyarakat urban, fokus BTN pada pembiayaan rumah memperkuat akses kepemilikan hunian di tengah dinamika suku bunga dan biaya hidup kota yang terus meningkat.




