Mereka ditempa secara khusus agar memiliki kecakapan komunikasi publik dan metode pendampingan yang aplikatif di lapangan.
Baca juga: Sasar Belanja Turis Rp24 Juta per Kunjungan, Kemenpar Pacu Ekosistem Sports Tourism
“Melalui ToT Green Tourism MSMEs, peserta tidak hanya dibekali pemahaman teoritis mengenai pariwisata hijau, tetapi juga keterampilan fasilitasi, komunikasi, dan metode pendampingan masyarakat yang aplikatif. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan saat melakukan replikasi pelatihan di destinasi masing-masing,” papar Ika.
Efek domino dari program ini diklaim mulai mengubah wajah manajemen usaha mikro di desa-desa wisata. Warga yang dulunya mengelola bisnis secara serabutan, kini mulai melek pembukuan keuangan, rapi memisahkan dompet pribadi dengan modal usaha, hingga disiplin menerapkan operasional ramah lingkungan.
Manfaat konkret ini diakui langsung oleh Dwi Kuntari, pemilik usaha Jamu Deka yang merupakan alumni pendampingan angkatan pertama.
“Keuntungan usaha saya meningkat drastis dari yang awalnya hanya sekitar 1–2 persen menjadi 17 persen setelah memperkuat tata kelola dan sistem pencatatan keuangan usaha,” aku Dwi semringah.
Baca juga: Sambut Libur Sekolah, Kemenpar Gelar BBWI Travel Fair 2026 di Surabaya
Saring 15 Mentor Terbaik dari 10 Destinasi Prioritas
Guna menjaga mutu dan memperluas daya jangkau, Kemenpar menyaring ketat 15 peserta terbaik yang mewakili 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) serta tiga Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR).




