URBANCITY.CO.ID – Pemerintah China resmi memperkenalkan sistem jaringan komunikasi darurat nasional untuk menjaga konektivitas masyarakat saat terjadi situasi kritis. Inovasi ini memastikan akses komunikasi tetap tersedia di tengah lumpuhnya infrastruktur telekomunikasi akibat bencana alam maupun keadaan darurat lainnya.
Sistem anyar ini dikembangkan oleh Pusat Dukungan Komunikasi Darurat di bawah naungan Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT), dengan menggandeng sejumlah operator seluler lokal.
Menurut laporan media China Global Television Network (CGTN), keunggulan utama jaringan tersebut adalah kemampuan untuk menghubungkan pengguna lintas operator seluler (opsel) secara otomatis saat kondisi darurat.
Baca Juga :Â Pizza Hut Pindah Tangan, Nilai Transaksi Tembus Rp48,2 Triliun
“Keunggulan utama jaringan tersebut adalah kemampuan untuk menghubungkan pengguna lintas operator seluler (opsel) secara otomatis saat kondisi darurat,” tulis laporan CGTN.
Dengan sistem ini, pengguna tidak lagi dipusingkan dengan keharusan mengganti kartu SIM atau perangkat saat terjadi bencana seperti gempa bumi, banjir, maupun tanah longsor. Ponsel akan mendeteksi secara otomatis jaringan “National Emergency Communication” yang disediakan pemerintah. Pengguna tetap bisa melakukan panggilan telepon, mengirim SMS, serta mengakses internet meski operator asal mereka tidak berfungsi.
Pemerintah China merancang platform ini dengan perangkat base station yang mendukung kompatibilitas lintas operator secara nasional. Sistem ini terintegrasi untuk melayani pelanggan dari China Telecom, China Mobile, hingga China Unicom.
“Pemerintah China mengatakan sistem tersebut dirancang untuk memastikan komunikasi tetap berjalan bagi petugas penanganan bencana, maupun masyarakat yang berada di wilayah terdampak,” jelas otoritas terkait.
Selain menjaga layanan seluler, platform ini memungkinkan pengelolaan berbagai perangkat darurat dalam satu sistem terpusat. Infrastruktur yang terhubung mencakup base station berbasis drone, perangkat komunikasi portabel bagi petugas lapangan, base station pada kendaraan, hingga sistem komunikasi di kapal. Seluruh perangkat ini dirancang agar dapat dikerahkan dengan cepat di berbagai wilayah saat situasi mendesak.
Langkah strategis ini sejalan dengan rencana modernisasi sistem tanggap darurat China untuk periode 2026-2030 yang dirilis oleh Dewan Negara China (State Council).
Pemerintah China kini menggeser fokus dari model respons pasca-kejadian menuju pendekatan pencegahan risiko sejak dini. Target besarnya, pada 2030, kemampuan mitigasi risiko, keselamatan kerja, serta penguatan sistem tanggap darurat berbasis teknologi di tingkat daerah akan meningkat secara signifikan.




