URBANCITY.CO.ID – Rumah masih menjadi aset yang paling diburu masyarakat Indonesia, bahkan di tengah tantangan ekonomi dan perlambatan pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR). Bagi masyarakat urban, kepemilikan rumah bukan hanya memenuhi kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga menjadi instrumen investasi jangka panjang yang menawarkan potensi kenaikan nilai aset. Kondisi tersebut membuat PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) tetap optimistis terhadap prospek pembiayaan perumahan hingga akhir 2026.
Minat Masyarakat Menjadi Fondasi Pertumbuhan KPR
Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Hirwandi Gafar menilai permintaan rumah masih menunjukkan prospek yang kuat meskipun industri menghadapi berbagai tantangan dari sisi pasokan maupun pembiayaan.
“Sampai akhir tahun, kalau dilihat dari keinginan masyarakat untuk memiliki rumah, masih tinggi,” kata Hirwandi seusai Seminar Nasional ISEI Jakarta Komisariat Perbanas di Jakarta, Selasa.
Tingginya minat tersebut menjadi sinyal positif bagi pasar properti. Bagi masyarakat perkotaan, membeli rumah saat ini juga menjadi strategi untuk mengamankan aset sebelum harga properti kembali meningkat. Ketika pasokan rumah baru terbatas, pasar rumah sekunder dapat menjadi alternatif yang menarik karena menawarkan pilihan lokasi yang lebih matang dengan infrastruktur yang telah berkembang.
Menurut Hirwandi, apabila pasokan rumah baru terbatas, masyarakat masih dapat mempertimbangkan rumah sekunder karena transaksi pada segmen tersebut juga cukup tinggi.



