URBANCITY.CO.ID – Laju penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di industri perbankan nasional mulai mengendur. Sejumlah bank kakap dilaporkan hanya mampu mencatatkan pertumbuhan satu digit (single digit) pada awal tahun ini.
Fenomena tersebut memicu pertanyaan publik mengenai kondisi riil daya beli masyarakat di sektor properti.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa pertumbuhan KPR yang melambat ini merupakan cerminan dari sikap industri yang kian waspada.
Perbankan sengaja mengerem agresivitas demi menjaga kualitas aset di tengah ketidakpastian makroekonomi.
“OJK memandang bahwa pertumbuhan penyaluran KPR di level single digit pada sejumlah bank merupakan refleksi dari sikap perbankan yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan keselarasan dengan risk appetite masing-masing bank,” ujar Dian dalam wawancara tertulis, Minggu (17/5/2026).
Baca Juga: Kuasai 84 Persen Pasar Syariah, Menteri PKP Apresiasi Kinerja KPR Subsidi BSN
Dian menambahkan, ekspansi kredit perumahan tidak bisa berdiri sendiri. Sektor ini sangat bergantung pada indikator pemulihan daya beli riil, terutama kapasitas finansial masyarakat untuk membayar cicilan dalam jangka panjang. Saat ini, perbankan sedang merombak taktik agar portofolio kredit mereka tidak memburuk.
Rapor Merah KPR Tipe Kecil
Berdasarkan data yang dihimpun OJK per Maret 2026, penyaluran KPR nasional sejatinya masih tumbuh positif di level 4,79 persen secara tahunan (year-on-year/yoy.
Namun, rapor ini terjun bebas jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, di mana industri sempat mencetak pertumbuhan dua digit (double digit) hingga 16,31 persen yoy.




