Baca Juga: OJK Perketat Manajemen Risiko Sektor Asuransi Kredit dan Penjaminan UMKM
Bagi pihak sekolah, keterlibatan siswa menjadi bagian penting dalam mendorong perubahan. Dalam prosesnya, siswa didorong untuk mengenali persoalan di lingkungan sekitar dan mengembangkan gagasannya sendiri, sementara guru berperan sebagai pendamping. Proses tersebut kemudian dipantau melalui jurnal kelas untuk melihat perkembangan siswa dan inovasi yang mereka kembangkan.
Anugrah Mitria Sari, Guru Pendamping SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, mengatakan proses pengembangan inovasi memberikan pengalaman baru bagi siswa karena mereka tidak sekadar menerima solusi dari guru. “Yang paling membanggakan bukan hanya melihat hasil akhirnya, tetapi bagaimana siswa berani mengenali persoalan di sekitarnya dan mencari jalan keluarnya sendiri. Dari proses itu, anak-anak menjadi lebih peka terhadap cara mereka berkomunikasi dan memahami bahwa setiap anak bisa menjadi bagian dari perubahan di sekolah,” ujar Anugrah.
Membuka Ruang Aman untuk Bercerita
Persoalan berbeda ditemukan siswa SMP Negeri 1 Lubuk Pakam. Sebagian siswa masih enggan datang ke ruang Bimbingan Konseling (BK) karena khawatir dianggap sebagai siswa bermasalah. Mereka justru lebih nyaman berbicara dengan guru BK di luar ruang konseling, seperti di taman atau sudut sekolah.
Kondisi tersebut kemudian mendorong para siswa mengembangkan Perisai Pintar, sebuah aplikasi yang memungkinkan siswa menyampaikan cerita maupun keluhan secara anonim kepada guru BK. Sebelumnya, sekolah telah menyediakan kotak curhat sebagai ruang bagi siswa untuk menyampaikan cerita, tetapi penggunaannya belum berjalan efektif. Pengalaman tersebut mendorong siswa mencari pendekatan yang menurut mereka lebih sesuai dengan kebiasaan teman-temannya. Saat dilakukan observasi, sekitar 60% siswa mendukung dibuatnya Perisai Pintar. Dalam proses pengembangannya, siswa juga mendapatkan kesempatan mempelajari pembuatan aplikasi berbasis AI dan mengembangkan situs tersebut bersama tim.




