Angelika Patresia Gultom, perwakilan kelompok siswa SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, melihat Perisai Pintar sebagai wadah yang lebih nyaman bagi teman-temannya untuk menyampaikan persoalan yang sulit diceritakan secara langsung. “Senang sih, kan saya juga sama teman-teman kan sama-sama seumuran, jadi ngerti gimana perasaannya kalau curhat itu enggak didengar. Jadi kalau ada Perisai Pintar ini, kami punya tempat untuk berkeluh kesah,” kata Angelika.
Perubahan tersebut turut menjadi bagian dari pembelajaran bagi guru yang mendampingi. Mennusuriani Saragih, Guru BK SMP Negeri 1 Lubuk Pakam, melihat pendekatan Challenge Based Learning (CBL) membantu siswa belajar bekerja sama dan bergotong royong dalam mengembangkan inovasi. “Yang saya lihat dari materi CBL, anak-anak akhirnya bisa bekerja sama, bergotong royong dalam melaksanakan program CBL ini di sekolah,” ujar Mennusuriani.
Baca Juga: Pulihkan Pendidikan Sumatra, Kemendikdasmen Kucurkan Rp2 Triliun Bereskan 3.084 Sekolah
Dari Inovasi Lokal Menjadi Dampak yang Lebih Luas
Kedua inovasi tersebut merupakan bagian dari Program GENERASI Trakindo 2026 yang tahun ini mengangkat tema Sekolah Ramah Anak dengan pendekatan Challenge Based Learning (CBL). Program ini mendorong siswa untuk mengenali persoalan di lingkungannya, merancang solusi, dan terlibat langsung dalam menciptakan perubahan bersama warga sekolah.
Hingga 2026, Program GENERASI telah menjangkau 205 sekolah yang terdiri dari 30 SDN dan SMPN Mitra serta 175 sekolah imbas di 18 provinsi di Indonesia. Sejak 2021, program ini telah mendorong lahirnya lebih dari 150 inovasi yang semakin relevan dengan kebutuhan sekolah dan memberikan dampak bagi lingkungan sekitar. Capaian tersebut menegaskan peran Program GENERASI sebagai katalis perubahan, dengan mendorong gagasan yang berangkat dari persoalan sehari-hari menjadi langkah nyata untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak.




