Baca Juga: Bulan Literasi Kripto 2026: OJK Ingatkan Investor Analisis Fundamental Sebelum Bertransaksi
“Sekarang ini, kredibilitas itu ibarat ‘modal baru’. Kalau kebijakan dijalankan dengan disiplin, kepercayaan akan terbentuk. Yang penting bukan cuma visi yang jelas, tapi juga keyakinan dan cara eksekusi yang cerdas,” katanya.
Proyeksi Pertumbuhan 5–6 Persen
Saeed memproyeksikan ekonomi Indonesia tetap akan bergerak di kisaran 5 hingga 6 persen. Angka ini dinilai sangat masuk akal mengingat pertumbuhan PDB Indonesia saat ini (sekitar 5 persen) masih berada di atas biaya hidup, biaya usaha, serta defisit pemerintah.
Kondisi tersebut mencerminkan keseimbangan yang sehat antara pertumbuhan dan beban ekonomi. Kredibilitas kebijakan yang dijalankan secara konsisten dianggap sebagai alasan utama mengapa pasar tetap menaruh kepercayaan tinggi pada Indonesia.
“Kalau dijelaskan simpel, kondisi ekonomi Indonesia itu sehat. PDB sekitar 5%, suku bunga 4,75%, inflasi 3,5%, defisit 2,9%. Artinya, pertumbuhan lebih tinggi dari biaya hidup, biaya usaha, dan defisit pemerintah,” lanjut Shan.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi, Anatomi Tiga Mesin Airlangga
Dengan pilar stabilitas makro dan eksekusi kebijakan yang disiplin, Indonesia dianggap tidak hanya sekadar tumbuh secara sporadis, melainkan tumbuh secara konsisten dalam jangka menengah guna menghadapi dinamika energi dan ekonomi dunia yang mirip dengan krisis era 1970-an. (*)





