URBANCITY.CO.ID – Bank Indonesia (BI) memastikan cadangan devisa nasional masih berada dalam posisi yang sangat kuat untuk meredam gejolak nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Bank sentral memutuskan untuk menaikkan volume intervensi di pasar valuta asing demi mengawal stabilitas moneter di dalam negeri.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa penguatan intensitas intervensi tersebut dieksekusi secara terukur melalui tiga lini utama: pasar spot, pasar lindung nilai (domestic non-deliverable forward/DNDF), serta pasar forward.
Kendati dosis intervensi ditingkatkan, Perry menjamin posisi cadangan devisa RI masih jauh di atas ambang batas kritis internasional.
Baca Juga:Â Pertamina Patra Niaga Bangun Kilang Gasoline Cilacap-Dumai, Hemat Devisa Rp20 T
“Jadi, kami pastikan cadangan devisa lebih dari cukup. Masih lebih dari cukup, sehingga dosis intervensinya kami naikkan,” tegas Perry Warjiyo dalam Rapat Kerja bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (18/5/2026).
Andalkan Inflow SRBI dan Skor Aman Metrik ARA
Ketangguhan bantalan devisa Indonesia saat ini dibuktikan oleh skor metrik Assessing Reserve Adequacy (ARA) yang dirilis oleh Dana Moneter Internasional (IMF).
Perry membeberkan bahwa posisi ARA Indonesia secara konsisten bertahan di atas angka 100, yang merupakan batas bawah standar keamanan minimum global.
Guna mempertebal pasokan valas tanpa menguras cadangan devisa, BI mengombinasikan intervensi pasar dengan strategi pengetatan suku bunga instrumen portofolio.




