Nilai ekspor barang perhiasan dan barang berharga berhasil menembus angka USD 9,1 miliar, atau melonjak tajam sebesar 64,73 persen dibandingkan capaian tahun 2024 yang tercatat sebesar USD 5,5 miliar.
Angka fantastis ini mengonfirmasi bahwa kualitas desain dan presisi produk perhiasan Indonesia telah mendapatkan kepercayaan penuh dari konsumen mancanegara.
Agus Gumiwang menekankan bahwa momentum positif ini harus pemerintah jaga dengan memperkuat ekosistem industri secara menyeluruh.
Pemerintah mendorong pelaku usaha untuk terus merespons perubahan preferensi konsumen global yang semakin dinamis.
Di sisi lain, pelaku industri perlu meningkatkan daya tahan bisnis menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia dan fluktuasi harga bahan baku logam mulia yang kerap terjadi.
Baca juga:Â Ekspor Perhiasan RI Melonjak 65 Persen, Kemenperin Dorong IKM Go Global
Menerapkan Industri 4.0 demi Efisiensi Produksi
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menegaskan bahwa adopsi teknologi 4.0 menjadi syarat mutlak bagi produsen perhiasan untuk memenangkan persaingan.
Penerapan sistem digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam proses produksi mampu memangkas inefisiensi dan menghasilkan karya yang jauh lebih presisi.
Kemenperin sendiri telah melakukan penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) untuk memetakan kesiapan digital para pelaku industri logam mulia tanah air.
Transformasi digital dan penerapan Industri 4.0 memungkinkan industri perhiasan bekerja lebih efisien.




