Baca juga: Tata Kelola MBG “Amburadul”, Mahfud MD Soroti Kasus Lele Mentah di Pamekasan
“Kami berusaha mendengarkan para pakar yang sudah ada di Kementerian Kesehatan, dari situlah kami melakukan refocusing penerima manfaat,” imbuhnya.
Pemerintah menimbang opsi penghapusan kelompok siswa tingkat SMA dari daftar penerima manfaat bantuan makanan gratis ini.
Kebijakan diskualifikasi tersebut menyasar sekolah menengah atas kategori elit yang memiliki murid dari kalangan keluarga berekonomi mapan.
Penghapusan Alokasi SMA Sarat Penghematan
Penghematan dari sektor ini akan mengalihkan fokus bantuan kepada masyarakat yang jauh lebih membutuhkan uluran tangan pemerintah.
“Tujuannya kan bagaimana supaya indikator tujuan intervensi gizi ini tercapai, tapi penerima manfaatnya lebih fokus,” ungkapnya.
Baca juga: Pidato Prabowo di WEF: Soroti MBG, Tambang Ilegal, dan Ekonomi RI
“Misalnya lah contoh gampang, untuk SMA ya mungkin tidak perlu diberikan lagi MBG. Apalagi SMA-SMA yang mungkin yang uang sakunya anak-anaknya sudah Rp100.000, Rp200.000 gitu ya, yang high class itu tidak perlu lagi,” jelasnya.
Penghapusan kelompok pelajar SMA otomatis akan memangkas jumlah penerima manfaat sebanyak delapan juta anak secara nasional.
Opsi pengurangan kuota ini tetap mempertahankan kelompok rentan lain seperti santri, ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga masyarakat lanjut usia (lansia).
Pengawas program menjamin pengetatan kriteria ini berjalan adil berdasarkan data sosial ekonomi terbaru yang valid.
“Nah, itu yang kami exercise, tapi kami tidak menghilangkan esensi dari intervensi visi yang dilakukan oleh pemerintah. Jadi, refocusing diperlukan supaya lebih tepat sasaran,” tambahnya.




