Tetapi juga menjaga kualitas pembiayaan, likuiditas yang sehat, serta memberikan dampak nyata terhadap perekonomian nasional.
Pemimpin dan pelaku industri perlu mengarahkan transformasi pembiayaan syariah dari sekadar mengejar ekspansi untuk pertumbuhan lebih efektif, tetapi juga harus berkualitas.
Selain itu, profitable, dan memberikan dampak yang nyata terhadap perekonomian.
“Kami menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas pembiayaan, likuiditas, inklusi keuangan, dan juga agenda pembangunan nasional,” ujarnya.
Bob melanjutkan, di tengah ketidakpastian global dan domestik, BSI melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka lebar, khususnya melalui kredit atau pembiayaan investasi.
Baca juga:Â Diplomasi Budaya: Menpar Widiyanti Sebut ISI Bali Perkuat Daya Tarik Wisata Dunia
Kemudian, sektor produktif yang tangguh (resilient), serta program-program prioritas pemerintah. Sektor perumahan menjadi salah satu contoh penguatan rantai pasok.
“Melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan, BSI menyasar aspek demand untuk kepemilikan rumah oleh masyarakat”.
“Sekaligus memperkuat sisi supply dengan mendanai toko bangunan hingga agen properti, meski segmen demand menguasai portofolio perseroan,“ tandas Bob.
Selain sektor perumahan, BSI juga mengambil peran aktif dalam mendukung operasional Program MBG.
BSI menyiapkan dukungan berupa pengalokasian pembiayaan Surat Perintah Kerja (SPG) sebesar Rp444 miliar ke 296 Dapur MBG di berbagai wilayah Indonesia. (*)




