Ketidakpastian pasar global telah berdampak pada kenaikan credit default swap (CDS) domestik serta tekanan terhadap mata uang rupiah.
Upaya mitigasi dari perkembangan dan pelemahan nilai tukar rupiah itu adalah hedging.
Ini adalah upaya korporasi dan lembaga keuangan untuk melindungi nilai aset dan investasinya dari risiko pelemahan nilai tukar,” jelas Piter.
Baca juga: Sinar Mas Land Gelar Property Outlook 2024, Potensi dan Strategi
Piter melanjutkan, sistem keuangan dan perbankan domestik saat ini telah menyediakan berbagai instrumen lindung nilai yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha.
Antara lain Forex Forward, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), FX Swap, FX Option, Cross Currency Swap, hingga Interest Rate Swap.
Piter Abdullah menyatakan bahwa sinergi yang solid antara kebijakan fiskal yang adaptif, kebijakan moneter yang kredibel dan independen.
Selain itu, pengawasan sektor keuangan yang kuat mampu menjaga ketahanan ekonomi nasional agar tetap prudent, resilient, dan teruji.
Peran Strategis Perbankan Syariah
Dari sisi pelaku perbankan, di Tengah ketidakpastian ini, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) menajamkan fokus strategi pembiayaan dengan menyeimbangkan ekspansi bisnis/
Menyusul kemudian efisiensi operasional, serta manajemen risiko terukur.
Baca juga: Kawal Aksi Korporasi OCBC hingga Danamon, OJK Minta Layanan Nasabah Tak Terganggu
Dalam pemaparannya, Bob Tyasika Ananta selaku Wakil Direktur Utama BSI mengambil langkah ini untuk memastikan pertumbuhan perseroan tidak hanya efektif secara kuantitatif.




