Meski begitu, perpindahan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan karena bisnis logam mulia membutuhkan modal yang masif serta reputasi keamanan yang kokoh.
Hal senada diungkapkan Direktur Utama PT Untung Bersama Sejahtera (UBS), Eddy Yahya. Menurutnya, berbisnis logam mulia murni menuntut strategi promosi merek yang sangat kuat dan kehati-hatian tingkat tinggi.
“Pengusaha tidak bisa sembarangan melakukan perluasan usaha. Harga bahan baku berubah hampir setiap hari, sementara itu konsumen cenderung memilih produk dengan kadar emas atau gramasi lebih ringan agar lebih efisien,” kata Eddy.
Ditinjau dari kacamata akademis, Alvi Lufiani, Dosen Program Studi Kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, menilai pergeseran tren ini sebagai ujian sekaligus peluang bagi para desainer muda.
Bisnis logam mulia menuntut pemenuhan hukum yang ketat, mulai dari sertifikat keaslian hingga likuiditas keuangan yang tinggi demi meredam fluktuasi pasar global.
“Perusahaan perlu menerapkan strategi penjualan yang berbeda untuk logam mulia untuk menjamin keamanan dan manfaat investasi,” urai Alvi menutup analisisnya.
Pada akhirnya, lewat kreativitas dan fleksibilitas, industri perhiasan Indonesia diyakini akan terus berkilau di tengah dinamika ekonomi yang ada. (*)




