Senjata utama produk Indonesia di pasar global terletak pada keunikan desain yang memadukan keindahan modern dengan warisan budaya lokal. Selain itu, para perajin lokal sangat adaptif dalam meramu material, mulai dari emas, perak, hingga batuan mineral lain demi menyiasati fluktuasi harga bahan baku.
Baca Juga: Imbas Harga Global, Kemendag Naikkan Harga Patokan Ekspor Emas Periode Mei 2026
Siasat Karat Kecil untuk Kantong Domestik
Di pasar lokal, siasat dagang pun berubah mengikuti daya beli. Direktur Industri Aneka Ditjen IKMA, Reny Meilany, melihat konsumen lokal kini cenderung menyukai perhiasan dengan kadar karat rendah dan gramasi yang lebih kecil namun memiliki desain yang trendi.
“Bagi konsumen lokal, emas perhiasan dengan karat dan gramasi kecil serta desain yang menarik tetap bisa menjadi simpanan favorit sekaligus sebagai bentuk investasi,” urai Reny Meilany.
Demi menjaga ekosistem ini tetap hidup, Ditjen IKMA gencar menjalin sinergi dengan asosiasi, lembaga pembiayaan, hingga penyedia jasa perdagangan emas (bullion services).
Program bimbingan teknis, pameran internasional, hingga gerakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) terus digulirkan agar produk lokal menjadi raja di rumah sendiri.
Tantangan Modal dan Regulasi Ketat
Beralih ke sudut pandang pelaku usaha, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Perhiasan Indonesia, Iskandar Husin, menyebutkan beberapa korporasi besar memang mulai menyeimbangkan isi toko mereka antara produk fesyen dan produk investasi.
Baca Juga: Kemendag Tetapkan HPE Maret 2026: Konsentrat Tembaga Turun Tipis, Harga Referensi Emas Melonjak




